16 Jun 2016

Kebiri Akarnya Bukan Syarafnya

Link download Koran Solidaritas tersedia di bawah artikel ini

"Kebiri Sejak dalam Pikiran"

Editorial Koran Solidaritas - Edisi ke-10, Mei 2016

YY gadis 14 tahun dari Dusun Kasie Kasubun, Kec. Rejang Lebong - Bengkulu, menghebuskan nafas terakhir pada 2 April 2015. YY meninggal setelah sebelumnya disiksa dan diperkosa oleh empatbelas laki-laki teman sekampungnya . Ironisnya, tujuh diantara pemerkosa tergolong masih anak-anak, di bawah 15 tahun. Peristiwa itu terjadi didusun yang posisinya terletak diperbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu.

Libido dan minuman keras adalah faktor yang paling dipersalahkan dalam kasus YY. Padahal semua lelaki dan perempuan juga memiliki Libido, begitu juga dengan jumlah peminum alkohol yang tidak lantas melakukan perkosaan setelah menenggak minuman yang jauh lebih keras dari tuak. Sebagian besar pelaku perkosaan adalah orang yang dekat atau dikenali oleh korban. Karena melakukan perkosaan tentu tidak semudah memasukkan racun sianida ke minuman Jessica, atau tidak semudah menarik pelatuk pistol untuk menembak seseorang. Perkosaan membutuhkan detail-detail dan akurasi. Bahkan pembagian peran, dalam hal ini disebut Pelaku Berkelompok Sistematis (PBS). Karena pelaku selalu meerupakan kelompok homogen dari segi sosial, kesukaan, minat dan kebanyakan mengidentifikasi diri dengan paham dan tontonan yang sama.

Jelas YY jelas adalah target terpilih. Pelaku punya banyak pilihan selain YY. Jjalan yang dilalui YY sepulang sekolah itu, juga adalah jalan yang dilewati perempuan kampung-kampung sekitarnya. Bahkan setiap pagi dan sore, para perempuan dengan hanya dililit kain sarung menutupi dada, pasti melewati jalan itu jika hendak pergi dan kembali dari sumberair dimana mereka mandi dan mencuci

Alkohol benar adalah salah satu yang bisa memacu libido, tapi alkohol bukan penyebab perkosaan terjadi, alkohol disini digunakan untuk memacu adrenalin, lebih tepatnya menutupi ketakutan mereka, agar rencana yang sudah bersarang dikepala empatbelas pemuda itu, bisa berjalan sesuai rencana. Ide dan rencana tentang perkosaan, sekali lagi sudah eksis jauh sebelum tegukan alkohol pertama masuk dan memacu Sang Libido untuk bertindak cepat. Gagasan tentang tahapan dan cara-cara penyiksaan sudah mereka siapkan dalam bentuk rundown. Gagasan, rencana, rundown itu bahkan mungkin sudah ada sebelum mereka memilih YY sebagai korban.

Gagasan seperti itu tidak bisa dimatikan hanya dengan suntikan kimiawi. Gagasan seperti ini hidup, direproduksi, menular dan diyakini sebagaimana sebuah ideologi dikembangkan. Dipuncak mata rantai kekerasan ini, bertahtalah Sang Patriarki sebagai predator utama sekaligus penghulu para pelaku pemerkosaan ini. Ini menjawab mengapa pelaku pemerkosaan adalah laki-laki. Sebab dalam sebuah masyarakat patriarki, ekpresi kekuasaan yang paling utama adalah ekpresi kekuasaan dalam bentuk seksual. Relasi kuasa tubuh yang timpang itu lalu diadopsi menjadi infrastruktur sosial, budaya, hukum, agama, politik dan ekspresi/kebiasaan harian.

Dalam mengukuhkan kaki kekuasaannya, patriarki mengatur disumbatnya akses perempuan ke sumber-sumber ekonomi. Dalam pergaulan sosial perempuan dibatasi oleh cara berpakaian dan tata karma tertentu, yang oleh perempuan sendiri dianut tanpa melacak dari mana baik dan buruk itu muncul. Di politik apalagi, domestifikasi perempuan membuat seolah-olah afirmasi 30% yang tak kunjung dipenuhi adalah bukti bahwa kaum perempuan memang tidak pantas dipanggung politik.

Negara sepertinya tidak kuasa untuk menjerat para pelaku kekerasan seksual. Produk hukum yang bagus sekalipun belum tentu efektif untuk menekan angka perkosaan. Ini dikarenakan aparat penegak hukum sendiri hidup dalam kontradiksi internal dan eksternal yang sudah begitu kompleks. Bagaimana mungkin menggunakan instrumen hukum yang bertentangan dengan nalar dan tubuh yang hidup, dibesarkan oleh dan dalam buaian patriarki beratus tahun lamanya. Perlawananan RA Kartini ternyata masih membutuhkan banyak pekerjaan rumah, sekolah sebagai sarana utama kegiatan pendidikan yang dianggapnya mampu mengangkat derajat kaum perempuan, kini justru menjadi salah satu tempat dimana kekerasan seksual sering terjadi.

Perkosaaan bisa hadir sebagai bentuk penyimpangan psikologis, tapi lebih banyak adalah sebagai persoalan sosial. Berbagai argumentasi soal ketimpangan pembangun, kelas sosial, kemarahan gender, atau komodifikasi pasar yang kemudian membuat perkosaan menjadi simbol diambilnya satu komoditas dari sang Korban. Namun yang tentu paling banyak memakan korban adalah perang. Dalam perang perkosaan adalah bentuk penundukan seksual biologis satu pihak kepada pihak lainnya. Perempuan dijadikan harta rampasan. Yang pasti alkohol tidak ditemukan sebagai awal perkosaan terjadi. Media terutama televisi malah mungkin menjadi katalisator utama penyebaran informasi. Tayangan non-edukasi seperti sinetron dan infotainmen serta iklan produk, seakan mengkonfirmasi kejayaan Sang Penghulu Predator di puncak kekuasaanya.

Tuhan tentu sangat mengasihi YY. Ditengah perjuangannya menahankan sakit dan siksaan dari empatbelas laki-laki yang sedang memperkosanya, Tuhan mengambil nyawanya. Mungkin satu—satunya yang tidak masuk dalam rencana mereka adalah justru kematian YY. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya YY jika masih hidup. Sebagai korban dirinya akan menyaksikan para pelaku berkeliaran disekitar rumahnya seakan tidak pernah terjadi hal yang buruk. YY tidak akan luput dari pengawasan pelaku untuk memastikan YY tidak akan membuka mulut. Dan akhirnya YY akan memlilih diam ketimbang membayangkan sisa hidupnya berhadapan dengan cibiran dan cemoohan sebagai korban yang telah direnggut kesuciannya. Berharap pada hukum lebih rumit lagi. Pada saat itulah kebanyakan kasus perkosaan berulang selama bertahun lamanya.

Suntikan kimia untuk menjinakkan libido pelaku kekerasan seksual sudah terbukti gagal. Beberapa negara sudah melakukan dan terbukti tidak efektif menurunkan angka perkosaan. Senjata kimia itu hanya bisa menjangkau syaraf dalam jangka waktu tertentu. Sementara perkosaan dia hidup sebagai ide dan alat kekuasaan. Karena gagasan tidak akan pernah mati hanya dengan suntikan kimia. Gagasan bahkan bisa hidup lebih berkembang setelah pemikirnya mati.

Pembuluh darah utama predator-predator pemerkosa ini, tidak berada dalam syaraf yang kasat mata. Patriarki akan terus hidup berorasi tentang betapa gagahnya tindak kekerasan seksual tersebut. Selama hukum tidak ditegakkan oleh orang yang bisa mengatasi bias gender dalam dirinya, maka selama itu juga hukum hanya akan jadi alat Patriarki melanggengkan kuasanya. Dia akan ciptakan kader yang akan berceramah di rumah ibadah, dapur, kasur sumur, bahkan mungkin dari gedung DPR. Ide tentang kekerasan itu itu terus hidup ditubuh masyarakat kita, bahkan di aparat penegak hukum kita, anggota parlemen kita. Tinggal menunggu waktu, kita atau keluarga anda akan terseret masuk didalam lingkar kekerasan itu. Entah sebagai pelaku atau korban.

Download attachments:
Read 4718 times
Back to Top