07 Jan 2016

Kepo untuk Bangsamu

Link download Koran Solidaritas tersedia di bawah artikel ini

"Kepo Lawan Korupsi"

Editorial Koran Solidaritas - Edisi ke-6, Desember 2015

Bagi mereka yang pernah megikuti acara Wisuda, tanda kelulusan dari jenjang kesarjanaan, tentu pernah mendengar lagu De Brevitate Vitae (karena singkatnya kehidupan), atau di beberapa negara termasuk Indonesia diberi judul Gaudeamus Igitur (Karenanya mari kita bergembira). Tanpa menyanyikan lagu itu rasanya seorang Akademia ataupun Professores belumlah sempurna menyandang gelar akademik ataupun kesarjanaan. Celakanya, kebanyakan orang yang menyanyikannya tidak mengerti makna yang terkandung di dalam lirik Stanza karya Strada itu.

Lagu De Gaudeamus adalah sebuah simbol perlawanan terhadap apa yang mereka sebut Quivis Antiburschicus (mereka yang anti mahasiswa) dan Atque Irrisores (mereka para pencemooh). Lagu ini adalah salam perpisahan kepada abad kegelapan, abad dimana ilmu pengetahuan belum menjadi pedoman. Menyanyikan De Gaudeamus juga adalah pernyataan selamat datang kepada rakyat, pemerintah dan Negara moderen dalam sebuah tata dunia baru menggantikan sistem monarki. Makanya dicantumkan dalam lirik lagu tersebut Vivant et res publica, et qui illam regit, Vivat nostra civitas (Jayalah res publika/rakyat/negara, jayalah pemerintahku, hiduplah kotaku). Dari sana kita sering mendengar sebutan Civitas Akademika, atau kota para pelajar.

Indonesia menghasilkan kurang lebih 250 ribu sarjana (diploma, S1, S2 dan S3) setiap tahunnya. Namun lihat angka statistik yang menunjukkan bahwa Indonesia hanya menghasilkan 18.000 judul buku setiap tahun, itupun mungkin banyak yang ditulis oleh mereka yang tidak sarjana. Jumlah sarjana kita hampir menduduki peringkat kelima terbesar di dunia. Bandingkan dengan Inggris sebagai negara penghasil buku terbanyak di dunia, hampir 20 judul buku baru terbit setiap jam.  Kita tengok laporan tahunan KPK-RI tentang jumlah kasus korupsi tahun 2014: terdapat 9.432 laporan masyarakat, terindikasi korupsi 4.587 kasus, dan gratifikasi 2.224 kasus. Jika dijumlahkan sekitar 16.243 kasus per tahun, hampir menyamai jumlah judul buku baru. Yang ingin diangkat oleh Redaksi KS kali ini, bahwa baik penulis buku (yang sarjana) maupun pelaku korupsi, setidaknya pernah bersentuhan dengan 4.000 lebih jumlah perguruan tinggi di Indonesia. Lalu negara seperti apa yang bisa dibangun dari sarjana yang tidak mampu menulis, juga berperilaku korup?

Ini benar-benar karena kurangnya “KEPO EFFECT”, baik mahasiswa maupun sarjana kita tidak Kepo (memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan dan mendalam). Mungkin mereka terlatih untuk Kepo dalam hal negatif: mengintip SMS tetangga, menyalin kebutuhan skripsi dari Google, atau mencari tahu pergunjingan terbaru tentang sahabat mereka. Namun mereka tidak dilatih Kepo secara intelektual. Wajar jika anda mencari jurnal ilmiah, anda akan sangat sulit menemukan jurnal berkualitas 'wowwww' dari kampus-kampus Indonesia. Karena itu pula, sensitifitas dan intuisi ilmiah mereka tumpul dan permisif terhadap pelanggaran kaidah-kaidah ilmiah, lalu mengamini perilaku Koruptif. Mereka tidak peduli bahwa ratusan koruptor sedang mencoba kembali mengadu keberuntungannya dalam momentum Pilkada serentak pada 9 Desember mendatang. Mereka sibuk mencari relasi almamater dan bercerita betapa hebat alumni mereka yang menjadi Bupati atau Walikota, namun lupa bersikap kritis terhadap kawan mereka, bahkan terhadap nasib mereka sendiri. Kepo adalah sebuah sikap positif jika berjalan dalam kaidah ilmu pengetahuan, bahkan dia adalah kewajiban dalam konteks memerangi korupsi.

Ketika sebuah auditorium Perguruan tinggi bergetar dengan lagu De Gaudeamus, di ruangan yang sama ada dua jenis sarjana menyanyikan lagu yang sama. Jenis pertama adalah mereka yang bernyanyi sambil meresapi betapa hidup ini begitu singkat karenanya mereka berjanji dalam hati untuk memerangi kebodohan dan irrasionalitas dan bertekad membela kebenaran dan kebajikan imliah. Jenis yang lain, merasakan betapa hidup ini akan begitu singkat, didalam hati mereka sudah terpatri niat menjadi sukses dengan ijazah tanda kelulusan mereka. Gelar akademik mereka adalah asset ekonomi, penderitaan selama kuliah adalah pembenaran untuk menimbun kekayaan menjelang pensiun, apapun caranya termasuk mengamini korupsi. De Brevitate Vitae, Gaudeamus Igitur (karena singkatnya kehidupan, maka mari kita bergembira).

Download attachments:
Read 2979 times
Back to Top